Berita Utama

08Mei 2017

IMG-20170508-WA0016YOGYAKARTA – Perhelatan Musabaqoh Kitab Kuning se-Kabupaten Sleman diselenggarakan pada 9 April 2017 di Pondok Pesantren Anwar Futuhiyyah Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Sedangkan Musabaqoh Kitab Kuning se-Provinsi DIY diselenggarakan pada 6 mei 2017 di PP Al Munawir Krapyak, Bantul DIY. Terselenggara dalam dua katagori yaitu Ihya Ulumiddin (Ulya) dan Fathul Qarib (Ula). Lomba yang diadakan atas kerjasama Garda Bangsa dan Laskar Santri diikuti oleh dua belas santri terbaik se-DIY.
Di tingkat Provinsi katagori Ihya Ulumiddin putra juara satu dimenangkan oleh Abdul Aziz dan ditingkat yang sama putri dimenangkan oleh Ade ‘Amiroh. Sedangkan di katagori Fathul Qarib putri juara satu dimenangkan oleh Fariqotul Khosyi’ah. Ketiga juara satu tersebut adalah mahasantri yang berasal dari Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Selain mendominasi menjadi juara satu dalam dua tingkat tersebut, PP Wahid Hasyim juga mendapatkan juara tiga putri tingkat Ihya Ulumiddin oleh Dwi Arini Zubaidah dan juara tiga putra tingkat Fathul Qarib oleh M. Sa’dullah Fauzi.
Sebelumnya untuk katagori Fathul Qorib menjuarai ditingkat kabupaten Sleman. Juara satu putra M. Sya’dulloh Fauzi, juara satu putri Fariqorul Khosyi’ah, dan juara tiga Faiz Al-Faruqi. Sedangkan untuk katagori Imrithi juara tiga Fujiyati. Prestasi yang ditorehkan PP Wahid Hasyim ini akan berlanjut pada tingkat Nasional sekitar 23 Mei 2017.
Ajang Musabaqoh Kitab Kuning adalah ajang untuk seluruh santri saling menguji penguasaan dan pemahamaman terhadap kitab kuning. Kemampuan ilmu alat (Nahwu-Shorof) dan pemahaman terhadap kitab adalah aspek yang menjadi pertimbangan dewan juri untuk menentukan juara.
“Selain ingin mendapatkan pengalaman, saya juga ingin mengasah kemampuan saya dalam ilmu alat dan pemahaman terhadap kitab yang dilombakan.” kata Abdul Aziz, mahasantri PP Wahid Hasyim peraih juara satu putra tingkat Ihya Ulumiddin (Ulya).
Menurut Abdul Aziz, seluruh kemampuan yang bertanding dilomba tersebut sangat berimbang. Titik tolak yang menjadi ukuran dalam penjurian adalah bagaiamana peserta menanggapi dan menyikapi pertanyaan oleh dewan juri.
Kiranya lima mahasantri PP Wahid Hasyim yang telah mendapat juara di Musabaqoh Kitab Kuning menjadi teladan bagi seluruh santri pondok pesantrennya. Pondok Pesantren Wahid Hasyim mendasarkan pada empat program unggulan; Akhlakul Karimah, Takhfidzul Qur’an, Penguasaan Kitab Kuning, dan Kemampuan Bahasa Asing (Arab-Inggris).
Pengusaan Kitab Kuning (thurats) adalah salah satu cara umat Islam menggali khasanah ilmu pengetahuan yang sudah ditorehkan oleh ulama-ulama terdahulu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan sumbangsih pada peradaban. Bagaimana mungkin umat sekarang mampu memahami khasanah Islam lewat thurats tanpa mengetahui ilmu alat yang digunakan yaitu bahasa Arab.
Menjadi santri global adalah menumbuhkan rasa “peka” yang tinggi terhadap perubahan dan pertumbuhan zaman dan mampu memberikan analisis sosial yang tajam terhadap masayarakat. Tidak meninggalkan nilai-nilai dasar agama Islam dan selalu berinovasi untuk menjawab zaman dalam memberikan sumbangsih peradaban.

Penulis : Ampuh Sejati

12Des 2016

img_2140

     Nabi besar Muhammad SAW adalah sosok yang begitu mulia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, kelahiran beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak dan agama yang diridhoi Allah SWT. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umatnya menanamkan akhlak dan mengikuti langkah-langkah beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Semarak memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dan sima’an Al-Quran 30 Juz yang dilaksakan diasrama masing-masing berlangsung meriah dan khidmat…

img_2138

Asrama Abu Bakar

     Al-Qur’an Adalah bukti nyata perjungan Nabi sampainya Al-Qur’an dalam pelukan kita, jadi pedoman hidup kita, adalah bukti perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah dari Allah SWT untuk umat seluruh alam. Al-Qur’an adalah salah satu bukti nyata cinta kepada Nabi Muhammad SAW. (Nzl)

img_2141img_2144img_2143

Semoga kita semua tergolong umat yang mendapatkan syafaat di hari nanti. Aamiin Aamiin Yaa Robbala’alamiinn…

23Sep 2015

IMG_5754        Sleman (23/09) Dalam rangka menyemarakkan kegiatan Idul Adha 1436 PP. Wahid  Hasyim menggelar acara takbir bersama. Acara dilaksanakan di lapangan komplek Abdul Hadi Centre (AHC) dan diikuti oleh seluruh santri PP. Wahid Hasyim baik dari MI, MTs, MA, SMA Sains dan santri mahasiswa. Tampil sebagai pembuka acara penampilan rebana putri dari Madrasah Wahid Hasyim yang cukup memeriahkan malam itu. Acara dilanjutkan dengan sholawat dan takbir bersama yang diikuti oleh seluruh santri PP. Wahid Hasyim.

       Acara takbir bersama berlangsung semarak. Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laailaaha illallahuallahu akbar, Alllahuakbar walillahilham. Begitulah suara kumandang takbir yang dilafalkan secara bersama-sama oleh santri PP. Wahid Hasyim yang terdengar syahdu.

              Selain takbir bersama, semarak Idul Adha 1436 akan dilanjutkan dengan sholat Idul Adha berjamaah di masjid jami Gaten. Usai sholat Idul Adha acara dilanjutkan dengan pemotongan daging kurban. Khoirun Najib  selaku ketua panitia menyampaikan bahwa tahun ini  panitia Idul Adha 1436 H akan menyembelih 21 ekor kambing. Hewan kurban berasal dari wali santri secara personal dan swadaya santri PP. Wahid Hasyim. Najib menambahkan bahwa nantinya daging kurban akan didistribusikan untuk santri PP. Wahid Hasyim. Kepanitian pengolahan daging kurban merupakan sarana berlatih santri untuk bisa mengelola daging kurban sampai pada pendistribusian. Dengan demikian, santri mempunyai bekal  yang cukup jika nantinya terjun ke masyarakat. (msr)

takbiir

 

16Sep 2015

12009825_891780790858720_8021072967917059945_n              Sleman (16/09). Keluarga besar PP. Wahid Hasyim patut berbangga atas pencapaian prestasi yang telah diperoleh oleh santri PP. Wahid Hasyim dalam ajang Pospeda Sleman 2015. Pospeda merupakan pekan olahraga dan seni antar pondok pesantren sebagai ajang kompetisi antar santri pondok pesantren. Pospeda Sleman 2015 digelar selama 2 dua hari, Selasa (15/9) dan Rabu (16/9) dan diikuti oleh kontingen dari 27 pondok pesantren se-kabupaten Sleman. Lokasinya tersebar di tiga titik yakni Gedung Serba Guna, Serambi Masjid Agung, dan GOR Pangukan.

           Dalam event bergengsi ini, kontingen Wahid Hasyim berhasil menyabet 25 tropy kejuaraan dari semua cabang yang dilombakan dan berhasil menduduki juara umum  ke 2 dalam Pospeda 2015. Tentunya, pencapaian ini bisa tercapai berkat komitmen, latihan keras para peserta lomba dan kerja keras tim pelatih. Cabang yang mendapatkan juara 1 diraih pada cabang perlombaan lompat jauh (Pa), kaligrafi lukis (Pi), qosidah (Pi), qidato B. Arab (Pa), Pidato B. Indo (Pi), pencak silat kelas D (Pa).

          Sedangkan untuk cabang yang mendapatkan juara 2  adalah pada cabang lomba cipta puisi, stand up comedy (Pa) lomba lari 200 m (Pi), lari 5000 m (Pa), lari 800 m (Pi), estavet 4 x 1000 m (Pi), silat kelas C (Pa), silat kelas F (Pa), hadroh (Pa).Dan yang terakhir, untuk cabang yang mendapatkan juara 3 yaitu pada cabang hadroh (Pi), kaligrafi hiasan mushaf (Pi), lari 300 m (Pi), badminton ganda (Pi), voly (Pa), voly (Pi), Silat kelas A (Pa), Silat kelas B (Pi), Silat kelas C (Pi).

            Tentunya, pencapaian prestasi santri tahun ini pada event pospeda lebih baik daripada tahun sebelumnya. Harapannya, PP. Wahid Hasyim bisa terus mencetak santri-santri yang berprestasi, tak hanya prestasi akademik tapi juga non akademik. Prestasi yang sudah diraih menjadi sebuah kebanggaan yang harus kita apresiasi dan terus ditingkatkan untuk masa yang akan datang. (msr)

 *Rincian Kejuaraan:

  1. Juara 1 Lompat Jauh (Pa)
  2. Juara 1 Kaligrafi Lukis (Pi)
  3. Juara 1 Qosidah (Pi)
  4. Juara 1 Pidato B. Arab (Pa)
  5. Juara 1 Pidato B. Indo (Pi)
  6. Juara 1 Pencak Silat kelas D (Pa)
  7. Juara 2  Qosidah (Pa)
  8. Juara 2 Cipta Puisi
  9. Juara 2  Stand Up Comedy (Pa)
  10. Juara 2  lomba lari 200 m (Pi)
  11. Juara 2  lomba lari 5000 m (Pa)
  12. Juara 2  lomba lari 800 m (Pi)
  13. Juara 2  estavet 4 x 1000 m (Pi)
  14. Juara 2 Silat kelas C (Pa)
  15. Juara 2 Silat kelas F (Pa)
  16. Juara 3 hadroh (Pa)
  17. Juara 3 hadroh (Pi)
  18. Juara 3 Kaligrafi hiasan mushaf (Pi)
  19. Juara 3 lari 300 m (Pi)
  20. Juara 3 badminton ganda (Pi)
  21. Juara 3 voly (Pa)
  22. Juara 3 voly (Pi)
  23. Juara 3 Silat kelas A (Pa)
  24. Juara 3 Silat kelas B (Pi)
  25. Juara 3 Silat kelas C (Pi)

Sumber: Official_Weha

11Sep 2015
IMG_6581

Bapak. H. Muhtarom ketika memaparkan materi

Yayasan PP. Wahid Hasyim Kamis (10/09) menyelenggarakan stadium general dengan tema Khidmah Santri di pondok pesantren. Acara diselenggarakan di aula PP. Wahid Hasyim dan diikuti oleh seluruh santri PP. Wahid Hasyim. Dalam sambutannya, bapak M. Toha selaku perwakilan dari yayasan menyampaikan pentingnya berkhidmah bagi kalangan santri. Untuk itu, sangat diperlukan sekali adanya wawasan dan motivasi bagi santri untuk berkhitmah di pesantren. Dalam hal ini, bertindak selaku pemateri adalah bapak H. Muhtarom. Beliau adalah salah satu alumni PP. Wahid Hasyim yang memang sudah banyak berperan dalam pengembangan pesantren.

Bapak H. Muhtarom memaparkan, jika seseorang ingin berhasil maka harus berprinsip pada 5 hal, yaitu: Yang pertama, ashidqu (jujur), seorang santri harus mempunyai kepribadian yang jujur, baik jujur kepada diri sendiri ataupun jujur kepada orang lain. Kedua, amanah (dapat dipercaya). Sikap amanah harus dimiliki baik oleh seorang santri ataupun pengurus. Seorang santri yang amanah, maka ia melakukan hal-hal yang diamanahkan oleh orang tuanya, yaitu mengaji. Seorang santri dan pengurus juga harus menjalankan amanah apapun yang diberikan pengasuh dengan sebaik-baiknya.
Ketiga adalah i’tidal (proporsional), kapan harus mendahulukan kepentingan pribadi atau kepentingan sosial, kapan harus mendahulukan kepentingan kuliah atau pondok. Jika memang kepentingan pondok itu lebih penting, maka seorang santri harus lebih memprioritaskannya. Keempat adalah ta’awun (kerjasama), seorang santri di pesantren maka tergabung dalam masyarakat santri, maka budaya-budaya kerjasama, gotong royong ini harus terus diupayakan. Dan yang kelima adalah istiqomah. Beliau menyampaikan, puncak dari kesemuanya adalah istiqomah ketika kita bisa istiqomah dalam melakukan semua kebaikan

Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa perkembangan media teknologi menjadi tantangan yang besar bagi para santri jika santri tidak cerdas memakainya. Beliau mencontohkan dengan HP di zaman sekarang yang serba canggih, jika kita tidak cerdas menggunakannya maka kita akan dibodohi oleh HP itu sendiri dan membawa dampak yang kurang baik. Beliau menambahkan, bahwa kesempatan sebagai seorang santri sekaligus sebagai seorang mahasiswa harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jadilah santri baik-baik, jadilah mahasiswa baik-baik dan bekali diri dengan kemampuan pikir, rasa, kemampuan dhohir dan batin. Dengan demikian, maka santri akan bisa menghadapi tantangan di masa depan.(msr)

vgg

Santriwan santriwati peserta Studium General

04Jun 2014
Bapak Drs.HM.Lutfi Hamid,M.Ag Kakankemenag Sleman saat menghadiri acara Haflah Khatmil Qur'an dan Wisuda Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta

Bapak Drs.HM.Lutfi Hamid,M.Ag Kakankemenag Sleman saat menghadiri acara Haflah Khatmil Qur’an dan Wisuda Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta

Sleman (Humas)—Kepala Kantor Kementerian Kabupaten Sleman Drs.HM.Lutfi Hamid,M.Ag memiliki penilaian tersendiri bagi Pondok Pesantren Wahid Hasyim saat ditemui di sela-sela Prosesi Haflah Khotmil Quran dan Wisuda Santri MI, MTs, MA, Madrasah Diniyah, dan Mahad Aly, Sabtu (31/5) malam di kompleks pesantren setempat Jalan KH Wahid Hasyim, Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman. Menurut pejabat yang dulu pernah menjadi Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil KemenagDIY itu, pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH Abdul Hadi Asy-Syafii ini mampu menunjukkan branding-nya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mempunyai target dan konsep yang jelas.

“Hal ini terbukti dengan adanya demo tafsir al Quran maupun khitobah dengan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris,” ujar pejabat kelahiran Bantul 5 Januari 1968 itu. “Artinya lembaga ini sudah dapat disebut qualified, berkelas, karena mempunyai ukuran yang jelas atas identitas lembaga pendidikan tersebut,” tambahnya kemudian.

Sebelumnya saat prosesi haflah khotmil dan wisuda santri yang juga dihadiri Kakanwil Drs. H. Maskul Haji, M.Pd.I dan Kasi Pondok Pesantren Rohwan M.Si ini , sebanyak 222 siswa diwisuda dengan rincian 14 siswa MI, 58 MTs, 68 MA, 69 Madin, dan 13 Mahad Aly. Sementara khotmil quran, diikuti 239 santri khatam al Quran bin-nadri dan 25 santri khatam bil-ghoib 30 juz.

Pesantren ini kini diasuh oleh KH Jalal Suyuti. Sedang santri berprestasi dari jenjang MI adalah Halimatus Sa’diyah, Ahmad A’la (MTs), Nisa Usliatun Jannah (MA IPA), Siti Novitasari (MA IPS), Abdul Aziz (Madin Putra), Nasikhah (Madin Putri), dan Winarto S.Pd.I (Mahad Aly). [bap]

Sumber: http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=194731

04Jun 2014
Bapak Drs.H.Maskul Haji,M.Pd.I , Kakanwil DIY saat memberikan sambutan di Haflah Khatmil Qur'an dan Wisuda Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta

Bapak Drs.H.Maskul Haji,M.Pd.I , Kakanwil DIY saat memberikan sambutan di Haflah Khatmil Qur’an dan Wisuda Santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta

Sleman (Humas Yogya Istimewa)—Al Quran adalah dasar utama untuk membentuk akhlak manusia. Hal ini menjadi pondasi kokoh untuk membangun bangsa yang penuh rahmat menuju baldatun thoyyibatun warobun ghofur. Alasan itulah yang melatari Pondok Pesantren Wahid Hasyim (WH) asuhan KH Jalal Suyuti untuk terusistiqomah melahirkan santriwan-santriwati yang menekuni agama terutama bidang tahfidz quran.

Untuk menegaskan hal tersebut, pesantren yang didirikan almaghfurlah KH Abdul Hadi Asy-Syafii ini menggelar Prosesi Haflah Khotmil Quran dan Wisuda Santri MI, MTs, MA, Madrasah Diniyah, dan Mahad Aly, Sabtu (31/5) malam di kompleks pesantren setempat Jalan KH Wahid Hasyim, Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman. Sebanyak 222 siswa diwisuda dengan rincian 14 siswa MI, 58 MTs, 68 MA, 69 Madin, dan 13 Mahad Aly.

Sementara saat prosesi khotmil quran, sebanyak 239 santri khatam al Quran bin-nadri dan 25 santri khatam bil-ghoib 30 juz. Keseluruhan 241 santri tersebut diasuh oleh Nyai Hj. Nelly Halimah Jalal Suyuti.

Kakanwil Kemenag DIY Drs.H.Maskul Haji,M.Pd.I yang hadir didampingi Kasi Pondok Pesantren Bidang Pakis Kemenag DIYRohwan,S.Ag,MSi mengungkapkan, santri lulusan WH bisa menjadi teladan di tengah masyarakat. “Bagi wali santri, memiliki anak yang mampu mengkhatamkan dan hafal al Quran serta piawai berbahasa asing tentu membanggakan,” ujar Kakanwil usai menyimak dialog santri dengan Ustadz Muh. Khoeron yang menggunakan bahasa asing. Kakanwil berharap, santri WH tidak hanya cerdas berfikir, tapi juga istiqomah berdzikir. “Karena tantangan nyata adalah ketika kalian besok terjun langsung ke masyarakat yang notabene plural, heterogen, tidak homogen seperti di pesantren,” pesan pejabat kelahiran Pati, 27 Maret 1959 itu.

Selain itu, pihaknya menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kelulusan MA WH yang mencapai 100 %. “Wahid Hasyim ikut menyumbang angka kelulusan MA yang hampir 100 % bulat dari keseluruhan 3.200-an siswa aliyah di DIY,” papar Maskul Haji yang disambut tepuk tangan meriah hadirin utamanya wali santri.

Sementara santri berprestasi dari jenjang MI adalah Halimatus Sa’diyah, Ahmad A’la (MTs), Nisa Usliatun Jannah (MA IPA), Siti Novitasari (MA IPS), Abdul Aziz (Madin Putra), Nasikhah (Madin Putri), dan Winarto S.Pd.I (Mahad Aly). [bap]

Sumber: http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=194723

17Apr 2014

Sebagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren pada umumnya, pondok pesantren Wahid Hasyim pada awal mulanya adalah merupakan Majlis Ta’lim rutinan yang diasuh oleh seorang Kyai. H Abdul Madjid demikianlah nama Kyai yang saat itu merintis sekaligus mengasuh Majlis Ta’lim di dusun Gaten disebuah wilayah kota Yogyakarta. Beliau adalah seorang ulama sekaligus da’i pendatang yang berdomisili di dusun Gaten pada kisaran tahun 1925-an. Awal mula Majlis Ta’lim ini hanya sebuah kegiatan pengajian konvensional biasa yang diikuti oleh ibu-ibu dan beberapa orang dari kaum bapak. Namun demikian pada masa selanjutnya Majlis Ta’lim ini mengalami perkembangan jama’ahnya. Sehingga pelaksanaan yang pada awalnya dilakukan dirumah-rumah berganti dilaksanakan dimasjid Jami’ Gaten secara rutinan.

       Spiritualitas (baca:keber-agama-an) bagi masyarakat Gaten mempunyai arti sama penting dengan kebutuhan untuk makan dan minum sebagai sumber kehidupan. Demikian pentingnya arti spiritualisme bagi mereka, hingga saat K.H Abdul Majid wafat masyarakat pun secara langsung menunjuk seorang sesepuhuntuk menggantikan beliau. Tersebutlah nama Kyai Syafi’I yang dipercayai oleh masyarakat Gaten untuk menggantikan tugas dakwah beliau. Kyai Syafi’I yang saat itu menjabat sebagai kepala dukuh, dengan rasa penuh tanggung jawab berusaha terus untuk melestarikan keberadaan Majlis Ta’lim yang telah dirintis oleh Kyai Abdul Majid tersebut. Pada saat itu jumlah Majlis Ta’lim yang ada telah berkembang biak dibeberapa daerah sekitar dusun Gaten. Namun demikian perkembangannya yang cukup signifikan baru terjadi pada masa K. H Abdul Hadi Syafi’I. Yakni pengganti sekaligus juga putra sulung beliau sendiri.

       Pada masa Romo Kyai Haji Abdul Hadi, keberadaan Majlis Ta’lim ini semakin mengalami perkembangan dari waktu kewaktunya. Tercatat lebih dari sepuluh majlis ta’lim yang sama telah mulai di-ada-kan di berbagai dusun disekitar wilayah Gaten. Bahkan saat itu, dengan didukung oleh Drs. Margono, H. Masyrif dan Bapak H. Kuat Hadikusumo, beliau juga mendirikan Madrasah Diniyah (1965) yang dikhususkan bagi remaja Gaten dan wilayah-wilayah sekitarnya. Demikian pada masa selanjutnya (1975) madrasah ini berubah menjadi Madrasah Ibtadaiyah dibawah naungan DEPAG RI dan mendapat bantuan tiga tenaga pengajar.

       Perkembangan terjadi kembali pada tahun yang sama, dalam mana saat itu di dusun Nologaten terdapat PGA yang bernama Wahid Hasyim yang sedang mengalami krisis dan ingin bergabung dengan madrasah yang dikelolah oleh Romo Kyai. Dan Romo Kyai sendirilah yang ditunjuk sebagai ketua pengelolahnya (baca:yayasannya). Dibawah pengelolaan Romo Kyai, PGA ini tidak hanya dapat terselamatkan keberadaannya melainkan tetap terus Eksis hingga sampai pada tahun 1980-an. dimana waktu itu pemerintah mulai menerapkan kebijakan baru berkenaan dengan penghapusan PGA dan menggantinya dengan MTs maupun Madrasah Aliyah. Maka praktis, mulai saat itu PGA Wahid Hasyim berubah naman menjadi MTs Wahid Hasyim dan Madrasah Wahid Hasyim.

       Namun demikian, ciri khas pengajian klasik yang telah dirintis oleh K Abdul Majid dan K. Syafi’i tetap dipertahankan oleh Romo Kyai. Bahkan demi untuk tetap melestarikan warisan luhur pendahulunya, yayasan ini, oleh Romo Kyai, dengan persetujuan beberapa pihak, dirubah menjadi Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim yang bervisikan menciptakan lembaga yang dinamis-selektif, baik secara kulitatif maupun kualitatif, sehingga mampu melahirkan generasi Islam yang beriman, bertaqwa, cakap, trampil  serta memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Islam serta juga berdedikasi tinggi terhadap agama, bangsa dan negara.

06Mar 2014

KH. Abdul Hadi merupakan pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Wahid Hasyim. Beliau lahir pada tahun 1921 dan wafat pada tahun 2000 di Dusun Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, DI Yogyakarta. KH. Abdul Hadi merupakan putra dari pasangan Almarhum KH. Syafi’i dan Nyai Hj. Syafi’i. Almarhum KH. Syafi’i dan Nyai Hj. Syafi’i merupakan keluarga yang berada yang sangat perduli terhadap pendidikan, khususnya pendidikan agama. Oleh karena itulah, ketika beranjak remaja, KH. Abdul Hadi disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah rakyat. Tentu saja, kesempatan yang dimiliki KH. Abdul Hadi untuk mengenyam pendidikan tidak banyak dimiliki anak-anak lain sebayanya.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, KH. Abdul Hadi dikirim oleh orang tuanya untuk menimba ilmu agama pada beberapa ulama di sekitar Yogyakarta, seperti Alm. KH. Muhdi, KH. Muhammad Krapyak Lor, KH. Ashari Lempuyangan, K. Muhsin Pomahan, dan beberapa ulama di daerah Mlangi, Sleman. Dari guru-gurunya tersebut, KH. Abdul Hadi tidak sekedar belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu tentang hidup dan kehidupan. Oleh karenanya, beliau tidak sombong walaupun pada zaman itu beliau termasuk sedikit orang yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar dan belajar kepada kyai-kayi berpengaruh di wilayah Yogyakarta

Setelah dewasa, KH. Abdul Hadi dinikahkan dengan Ny. Hj. Hadiah binti H. Dahlan dan bermukim di Dusun Gaten. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, KH. Abdul Hadi bekerja sebagai pedagang (juragan) hasil pertanian dan lembu.  Berkat keuletan, kejujuran, dan kerendahan hatinya, KH. Abdul Hadi dalam waktu singkat telah menjadi petani dan saudagar sukses. Kesuksesannya tidak menyebabkan beliau sombong, tetapi justru menjadi cambuk bagi KH. Abdul Hadi untuk terus bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Seiring dengan semakin baiknya kehidupan ekonominya, KH. Abdul Hadi mulai merintis pengajian yang bertempat di masjid yang merupakan wakaf ayahnya (KH. Syafi’i). Pengajian rintisan KH. Abdul Hadi pada awalnya hanya diikuti oleh masyarakat sekitar Gaten, seperti H. Saiman dari Dusun Santren, Drs. H. Maryono dari Dusun Cepit, H. Kuat Hadi Kusnanto dari Dusun Laren, KH. Hidayatullah dari Dusun Seturan, dan H. Muhajir dari Dusun Mundu.

Berkat keuletan, kesabaran, dan kecerdasan KH. Abdul Hadi dalam membaca masyarakat (dalam term organisasi biasanya disebut analisa sosial), pengajian yang disampaikan KH. Abdul Hadi lambat laun semakin banyak pengikutnya. Dalam menyampaikan materi pengajiannya, KH. Abdul Hadi selalu berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dengan cara demikian, maka pengajian yang diselenggarakannya tidak saja dapat mencerdaskan dan memberikan manfaat kepada jamaahnya, tetapi juga, baik langsung atau tidak, telah mendorong terjadinya perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Merespon kebutuhan masyarakat, pada tahun 1961, KH. Abdul Hadi mendirikan pondok pesantren yang diberi nama “Pondok Pesantren Salafiyah”. Dilihat dari namanya, pondok pesantren yang didirikan KH. Abdul Hadi tersebut bertujuan untuk mencetak santri yang memiliki kepribadian sebagaimana ulama-ulama salaf. Pada awal pendiriannya, kebanyakan santrinya masih berstatus sebagai santri kalong atau santri yang hanya datang pada waktu malam. Sedangkan santri yang bermukim di rumah KH. Abdul Hadi hanya berjumlah 5 orang. Berkat kesabaran, keteguhan hati, dan metode hikmah yang digunakan untuk mendidik santri, semakin lama jumlah santri KH. Abdul Hadi semakin banyak. Walaupun telah menjadi seorang kyai muda dengan santri yang banyak, KH. Abdul Hadi setiap pagi dengan cangkul di pundaknya dan sabit di tangannya tetap mengunjungi lahan pertaniannya.

Pada tahun 1963, perpolitikan Indonesia bergolak karena propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI). Melihat kondisi tersebut, KH. Abdul Hadi diminta oleh ayahnya, KH. Syafi’i, untuk mendirikan sekolah agama. Sekolah yang dimaksud KH. Syafi’i adalah ‘sekolah kang ono pengajiane‘, yaitu sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Dengan ‘sekolah kang ono pengajiane’ tersebut, diharapkan masyarakat, khususnya para santri, menguasai ilmu agama sekaligus ilmu umum, sehingga tidak terpengaruh propaganda PKI dengan paham komunisnya. Ijtihad untuk menyelenggarakan pendidikan umum, pada saat itu, merupakan langkah yang sangat progresif. Apalagi saat itu sebagian besar masyarakat masih cenderung memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Akhirnya, pada tahun 1963, KH. Abdul Hadi dengan dibantu murid-murid dan masyarakat sekitar, mendirikan sekolah agama tingkat dasar (Madrasah Ibtidaiyyah) yang bernaung di bawah lembaga Ma’arif NU, yang sekarang menjadi MI Wahid Hasyim. Karena keterbatasan waktu dan tempat, kegiatan belajar dan mengajar MI ditempatkan di rumah KH. Abdul Hadi. Tidak berapa lama kemudian, sebagai respon atas masih minimnya pendidikan masyarakat, dan untuk semakin mengembangnya ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan syiar Islam, tepatnya tahun 1966, KH. Abdul Hadi bersama para murid dan aktivis PMII mendirikan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) yang diberi nama PGA Wahid Hasyim (yang sekarang menjadi MTs dan MA Wahid Hasyim).

Pada tahun awal berdirinya PGA Wahid Hasyim , kegiatan belajar mengajar masih menumpang di Sekolah Dasar (SD) Ambarrukmo di Jalan Solo dan masuk siang hari setelah kegiatan SD selesai. PGA Wahid Hasyim menumpang di SD Ambarrukmo kurang lebih selama 5 (lima) tahun. Kemudian, karena suatu hal, kegiatan belajar mengajar PGA Wahid Hasyim diselenggarakan di rumah KH. Abdul Hadi dengan menempati lokal MI secara bergantian, MI masuk pagi dan PGA masuk sore.

KH. Abdul Hadi terus berjuang untuk mencerdaskan masyarakat dan mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaganya, tetapi juga hartanya. Hasil dari aktivitas berdagang dan pertaniannya, beliau gunakan untuk menambah sarana dan prasarana pendidikan. Beliau hadir sebagai sosok pribadi yang sederhana, tulus, sangat tawadlu’ (rendah hati), terbuka, realistis, ulet, dan teguh pendirian. Kelembutan ini menyebabkan beliau menjadi pribadi yang sangat dicintai dan dihormati, sehingga tidak sedikit yang secara sukarela membantu perjuangan beliau untuk menjadikan Pondok Pesantren Wahid Hasyim sebagai pusat pendidikan Islam.

Seiring semakin banyaknya jumlah santri, baik yang hanya hendak belajar agama, maupun dari kalangan mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga dan siswa PGA, pada tahun 1976 KH. Abdul Hadi mengganti nama Pondok Pesantren Salafiyah menjadi Pondok Pesantren Wahid Hasyim. (Bersambung)

Wallahu A’lam. (KH. Drs. Jalal Suyuti)